Multiliterasi pada Buku Cerita Bergambar Anak

Ditulis oleh:
Dwi Oktarina

Konsep multiliterasi hadir dalam bahan bacaan anak. Bahasa yang dituturkan akan tetap jadi mode utama dalam berkomunikasi; sementara itu bahasa yang dituliskan akan secara perlahan digantikan dengan gambar (image) dalam banyak domain komunikasi publik. “The world told is different from the world shown” (Kress, 2003).

Dalam buku cerita bergambar, dapat ditemukan dua hal yang dominan membentuknya secara seimbang, yakni teks dan ilustrasi (gambar). McCloud menulis bahwa sebuah gambar dapat menimbulkan kesan kuat pada pembaca, begitu pun teks cerita. Jika digabungkan, keduanya dapat membuat sebuah keajaiban (Jaffe & Hurwich, 2019). Mengembangkan konsep buku cerita bergambar yang baik berarti menciptakan satu konsep multiliterasi. Selain literasi dasar (membaca), banyak kecakapan literasi anak yang dapat dilatih dengan menggunakan media buku cerita bergambar.

Salah satu mode literasi yang aktif dengan membaca sebuah buku cerita bergambar adalah kemampuan literasi visual. Literasi visual tidak hanya berhenti pada kemampuan seorang anak melihat sebuah gambar saja. Proses menganalisis sebuah data dimulai dari kemampuan seseorang mengerti lambang atau simbol. Kemampuan untuk mengerti sesuatu kadang bersifat kompleks. Semakin banyak yang kita lihat, semakin membuat otak bekerja menciptakan makna-makna, semakin kita dapat disebut literat secara visual (Patterson, 2019). Dari sebuah gambar, seorang anak dapat belajar kompleksnya tanda dan makna.

Ada banyak proses yang harus dilalui agar seseorang memahami secara visual. Hal itu dimulai dari proses bagaimana orang melihat, bagaimana orang mengerti sintaksis visual, dan bagaimana cara mengerti sebuah fungsi (Patterson, 2019). Ketika memandang sebuah buku cerita bergambar, hal pertama yang harus dilakukan adalah melihat sebuah ilustrasi secara saksama. Berikutnya yang harus dilakukan adalah memecahkan sintaksis visual. Yang dimaksud dengan sintaksis visual adalah struktur di balik gambar yang kita lihat. Seorang pembaca harus dapat mengenali elemen visual seperti garis, bentuk, warna, tekstur, dan skala.

 Ilustrasi Pinang Gading (Nurmariana, 2014)

Dari ilustrasi yang tampak di atas menggambarkan sosok Pinang Gading sebagai seseorang yang kuat, tangguh, dan pemberani. Ia jago memanah dan memang tidak ingin menyusahkan orang tuanya. Anak panah yang tergantung di punggungnya menyiratkan bahwa ia adalah seorang perempuan yang tangguh. Pilihan warna baju yang dikenakan juga tegas dan cenderung berwarna gelap. Proses berikutnya yakni mengerti konteks cerita secara keseluruhan dengan menyertakan gambaran visual yang ada di kepala masing-masing pembaca. Secara keseluruhan, dengan memahami ilustrasi yang ditampilkan, pembaca harus sudah bisa memahami isi ceritanya.

Selain literasi visual, pembaca anak dapat mengembangkan kemampuan literasi budaya dan sekaligus literasi multikultural. Konten lokal membuat anak-anak menjadi peka dan terpapar langsung dengan nilai-nilai budaya daerah yang menjadi latar dalam sebuah cerita. Dalam hal ini, budaya yang menjadi latar kisah adalah budaya Melayu Bangka Belitung.

Literasi budaya menjadi hal penting untuk dikenal dan dikuasai sejak dini oleh anak-anak agar mereka tetap dapat mencintai dan melestarikan kebudayaan daerahnya. Lewat cerita-cerita tradisional yang pada awalnya dituturkan oleh orang-orang yang lebih tua, kemudian dialihwahanakan dalam bentuk buku cerita bergambar membuat anak-anak menjadi lebih gampang dalam mengakses pengetahuan lokal. Proses transmisi pengetahuan berbasis kearifan lokal pun jauh lebih mudah dilakukan melalui bahan bacaan yang dibukukan. Anak-anak dapat mengenal nilai-nilai budaya yang lekat dalam kehidupan sehari-hari, mencernanya, lalu mengaplikasikan dalam kesehariannya.

Jika konsep tentang lingkungan menjadi topik utama dalam buku cerita bergambar, anak-anak pun dapat dikenalkan dengan pentingnya literasi lingkungan. Saat ini, bumi tempat manusia tinggal sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Sistem politik dan struktur sosial memaksa manusia melakukan banyak hal yang merusak alam. Dalam beberapa dekade ke depan, kelangsungan hidup manusia akan bergantung pada kemampuan untuk mengerti prinsip-prinsip ekologi (Capra, 2004).

Kesadaran menjaga lingkungan inilah yang harus diupayakan sejak dini lewat hadirnya buku cerita bergambar. Buku cerita bergambar dengan tema lingkungan memiliki fungsi menggugah kesadaran anak sejak awal. Selain memperkenalkan lewat buku cerita bergambar, mengajak anak-anak secara langsung terlibat di alam juga dapat menjadikan mereka literat secara ekologi (lingkungan). Berada di pantai, hutan, atau gunung sembari memperkenalkan dengan tumbuhan atau hewan yang ada dalam buku cerita bergambar dapat membuat mereka lebih antusias dalam memahami lingkungannya secara langsung.

Ketika anak-anak diperkenalkan dengan konsep buku cerita bergambar, orang dewasa harus memahami pentingnya memecahkan kode yang ada dalam buku cerita tersebut. Melalui buku cerita bergambar dengan konten lokal daerah, anak-anak dapat mengenal akar budaya mereka dan mengerti bahwa kebijaksanaan dapat berasal dari petuah leluhurnya. Sebuah buku cerita bergambar dengan tema kearifan lokal membawa lebih banyak kemungkinan menawarkan model multiliterasi pada anak-anak. Tidak hanya literasi dasar tetapi juga literasi visual, literasi lingkungan, dan literasi budaya.

You May Also Like

%d blogger menyukai ini: