LITERASI KESEHATAN DI TENGAH PANDEMI

Di tengah-tengah kondisi yang tak menentu akhir-akhir ini, semua orang kewalahan menyerap informasi. Dalam banyak kasus, efek kecemasan dapat terjadi dan membuat tubuh menjadi makin rentan. Poster-poster kesehatan bertajuk pencegahan penularan virus menempel di mana-mana. Kegiatan membaca berita setiap pagi dapat membuat ketakutan. Kurva kematian di negara ini meningkat setiap hari Menonton televisi juga menimbulkan gejala-gejala tak enak badan. Hal ini wajar mengingat arus informasi mengalir deras. Hal ini pula yang membuat literasi terkait kesehatan harus diterapkan dalam kehidupan kita.

Literasi kesehatan dianggap penting untuk dikuasai masyarakat. Literasi kesehatan mendorong kita memiliki kemampuan untuk memilah dan menentukan mana informasi kesehatan yang seharusnya diterima dan dijadikan pedoman dalam berperilaku sehari-hari. Entah disadari atau tidak, literasi dan dunia kesehatan memiliki hubungan yang sangat erat. Bagaimana keduanya bisa saling memengaruhi?

Literasi dan Kesehatan

Ada tiga bagian penting dalam penguasaan literasi yakni 1) literasi wacana, yaitu kemampuan seseorang dalam menyarikan informasi dari sebuah berita, puisi, narasi, bahkan editorial media massa; 2) literasi dokumen, yaitu kemampuan seseorang memahami POS (Prosedur Operasional Standar) sebuah pekerjaan, jadwal, peta, tabel, grafik, dan kuesioner; serta 3) literasi kuantitatif, yaitu kemampuan menggunakan angka-angka untuk melakukan perhitungan dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari (National Adult Literacy Survey, 1993). Selain itu, Kirsch (2001) juga menyebut bahwa kemampuan berbicara secara komprehensif juga masuk ke dalam kompetensi literasi.

Salah satu dari sekian banyak cabang literasi yakni literasi kesehatan (health literacy). Definisi sederhana mengenai literasi kesehatan adalah segala pengetahuan yang berhubungan dengan bidang kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan pola hidup sehat. The Institute of Medicine secara formal mendefinisikan literasi kesehatan sebagai kemampuan seseorang untuk memperoleh, memproses, dan memahami informasi serta pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dalam upaya pengambilan keputusan terkait kesehatan secara tepat (Ratzan and Parker, 2000).

Contoh penerapan keahlian literasi yang dibutuhkan seseorang dalam bidang kesehatan di antaranya adalah saat membaca dan mengikuti panduan aktivitas fisik saat berolahraga, membaca label dan kadar gizi yang ada di produk makanan, melaksanakan diet sesuai petunjuk konsultan, mengisi formulir untuk pengajuan asuransi kesehatan, melakukan konsultasi kepada dokter, memahami resep obat, dan membaca poster penerapan gerakan masyarakat hidup sehat. Semua aktivitas di atas membutuhkan keahlian literasi yang baik.

Mengapa tingkat literasi dapat memengaruhi kondisi kesehatan kita? Disadari atau tidak, literasi dapat membantu menyelesaikan beberapa kondisi terkait kesehatan kita, tentu jika kita menyadarinya. Beberapa masalah penting terkait kondisi kesehatan yang buruk dapat terlihat dari rendahnya keterbacaan teks-teks kesehatan yang ada di masyarakat, komunikasi yang kurang baik antara dokter dan pasien, hingga upaya pencegahan dan pendeteksian dini sebuah penyakit yang kadang tidak dimengerti oleh pasien. Jika seseorang memiliki tingkat literasi yang tinggi, dapat dipastikan ia akan mengerti semua prosedur yang harus dilakukan terkait upaya pencegahan hingga pengobatan penyakitnya. Hal inilah yang harus tetap diupayakan semua orang.

Berdasarkan studi yang sudah dilakukan, ada hubungan antara tingkat literasi yang rendah dengan kesehatan yang buruk dan angka kematian yang tinggi (Clenland & Van Ginniken, 1988; Grosse & Auffrey, 1989; Perrin, 1989; Weis, Hart, McGee & D’Estelle, 1992; Tresserra, Canela, Alvarez & Salleras, 1992). Selain karena memiliki kemampuan literasi yang baik, kondisi kesehatan kita juga dipengaruhi oleh banyak faktor kompleks, mulai dari angka pendapatan, kondisi lingkungan sosial, juga kemudahan untuk mengakses pelayanan kesehatan. Seseorang yang berada di perdesaan mungkin akan lebih sulit mengakses pelayanan kesehatan bila dibandingkan dengan orang-orang yang berada di wilayah perkotaan. Hal ini juga yang menyebabkan para tenaga kesehatan berjibaku dengan sangat keras untuk memberikan penyuluhan kesehatan bagi orang-orang di daerah yang minim akses agar upaya pencegahan dapat menjadi strategi terbaik dalam memerangi sebuah penyakit.

Perspektif Baru

Dalam dunia kesehatan akhir-akhir ini, kita dihadapkan dengan permasalahan yang begitu kompleks. Pandemi Covid-19 makin menguatkan upaya pemerintah untuk menggalakkan pentingnya berliterasi. Literasi kesehatan tidak hanya mencakup kemampuan untuk memperoleh, memproses, dan memahami informasi serta pelayanan yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan kesehatan yang tepat. Akan tetapi, literasi kesehatan juga berpengaruh untuk membentuk perilaku kehidupan sehari-hari yang mendukung kesehatan secara penuh. Hal ini yang menyebabkan tingkat literasi dapat berguna mengontrol kesehatan individu, keluarga, bahkan masyarakat umum.

Pemahaman yang baik mengenai literasi kesehatan harus juga diperhatikan oleh pemangku kepentingan. Jika pihak-pihak yang bertugas meningkatkan pelayanan kesehatan, menciptakan aturan-aturan, dan mengembangkan materi-materi terkait kesehatan memiliki tingkat pemahaman yang baik terkait literasi, semua prosedur, peraturan, bahkan program dapat dibuat dan sesuai dengan tingkat literasi suatu masyarakat. Pemahaman yang baik dapat menuntun semua anggota masyarakat menuju sebuah sistem kesehatan yang baik pula.

Dari perspektif masalah-masalah yang terjadi, solusi yang ditawarkan beberapa pihak tampaknya sangat sederhana. Langkah-langkah yang diambil misalnya meningkatkan keterampilan berliterasi masyarakat untuk memastikan agar mereka dapat membaca, menulis, dan berhitung dengan baik sehingga meningkatkan level kesehatan mereka. Langkah lain yang dapat dilakukan adalah memperbaiki materi-materi literasi kesehatan agar tidak terlalu berbelit-belit dan dapat dipahami masyarakat awam. Selain itu, pendekatan lain yang dapat diambil yakni beralih dari konsep sederhana seperti gambar atau imbauan di radio yang sederhana menuju bentuk-bentuk komunikasi yang lebih kompleks misalnya video interaktif. Meski demikian, ahli kesehatan masih berpendapat bahwa masalah yang terjadi di lapangan sebenarnya lebih kompleks daripada hanya sekadar persoalan literasi baca tulis atau kemampuan menyerap informasi belaka.

Solusi yang benar-benar diharapkan yakni pelibatan masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan bersama. Diperlukan edukasi kesehatan yang dapat dimengerti masyarakat luas dan dapat dipraktikkan sesuai dengan tingkat literasi, budaya, dan bahasa mereka. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa melibatkan peserta secara aktif dalam proses pemberian informasi kesehatan juga meningkatkan kemampuan mereka dalam mengidentifikasi masalah yang mereka hadapi. Hal ini juga mengubah model pembelajaran kesehatan dari peserta pasif menjadi aktif yang akan membawa perubahan positif.

Saat ini, upaya pelibatan anggota masyarakat secara aktif terhadap peningkatan kesadaran mengenai kesehatan sudah mulai banyak dilakukan. Hal itu dapat dilihat dari aksi sosial yang dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat, mulai dari organisasi profesi, komunitas, hingga perseorangan. Komunitas-komunitas yang bergiat di media sosial membuat kampanye pencegahan penularan Covid-19 secara masif. Beberapa industri kecil dan rumahan juga memproduksi masker besar-besaran dalam rangka membantu mengurangi risiko penularan. Rekan guru juga membuat terobosan agar siswa tidak merasa bosan mengerjakan tugas di rumah selama masa pandemi dengan membuat video tutorial cara mencuci tangan yang baik dan benar sesuai dengan protokol kesehatan. Semua hal tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan dalam musim pandemi seperti ini.

Literasi kesehatan tidak hanya berarti kemampuan baca tulis terkait dengan bidang kesehatan saja. Literasi kesehatan memiliki peran penting dan strategis dalam pembangunan kesehatan individu dan masyarakat. Seseorang atau kelompok masyarakat yang memiliki literasi kesehatan yang rendah akan memiliki derajat kesehatan yang rendah pula. Lebih dari itu, literasi kesehatan menggerakkan orang-orang di luar sana agar lebih sadar dan menghargai kesehatan yang dimilikinya. Bukankah kita selalu lebih ingat dengan jargon “lebih baik mencegah daripada mengobati?”

Dwi Oktarina (Pengkaji Bahasa dan Sastra, Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung)
Tulisan ini terbit di Harian Babel Pos, 25 April 2020.

You May Also Like

%d blogger menyukai ini: